Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wash-sholatu was-salamu 'ala asyrofil anbiya-i wal mursalin... (dst).
Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin membagi puasa menjadi tiga tingkatan: Puasa Orang Awam (Shaumul 'Umum), Puasa Orang Khusus (Shaumul Khusus), dan Puasa Khusus di atas Khusus (Shaumul Khushushil Khushush).
Hari ini, mari kita fokus pada Puasa Orang Khusus. Jika puasa awam hanya menahan lapar, haus, dan syahwat dari terbit fajar hingga terbenam matahari, maka Puasa Orang Khusus adalah puasanya panca indera. Matanya puasa dari melihat maksiat, telinganya puasa dari mendengar ghibah, dan hatinya puasa dari penyakit-penyakit batin.
Kaitan dengan Tujuan Muhammadiyah
Sebagai warga Persyarikatan Muhammadiyah, kita diingatkan bahwa tujuan besar organisasi ini adalah:
"Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud Masyarakat Islam yang Sebenar-benarnya."
Mewujudkan "Masyarakat Islam yang Sebenar-benarnya" tidak mungkin tercapai jika individu-individunya hanya melakukan puasa kelas awam. Masyarakat yang sebenar-benarnya lahir dari pribadi-pribadi yang "khusus".
1. Puasa sebagai Sarana Tajdid (Pembaharuan) Diri
Muhammadiyah dikenal dengan semangat Tajdid. Puasa orang khusus adalah upaya kita melakukan pemurnian ibadah. Kita tidak hanya ikut-ikutan tradisi lapar, tapi kita mengembalikan hakikat puasa sebagai sarana mencetak pribadi Muttaqin yang memiliki integritas tinggi.
2. Kesalehan Individu Menuju Kesalehan Sosial
Dalam Muhammadiyah, ibadah tidak boleh berhenti di sajadah. Puasa orang khusus yang berhasil menahan diri dari menyakiti orang lain akan melahirkan pribadi yang gemar menolong (Al-Ma'un). Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Takwa di sini bukan hanya rajin shalat, tapi takwa yang menggerakkan kita untuk memajukan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan umat melalui pilar-pilar organisasi.
Jamaah yang berbahagia,
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras dalam hadits riwayat Ahmad:
"Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga."
Jangan sampai kita menjadi warga Muhammadiyah yang hanya pandai berorganisasi, namun puasanya masih kelas awam. Mari naik kelas ke Puasa Khusus.
Mata Khusus: Digunakan untuk membaca Al-Qur'an dan melihat peluang kebaikan.
Tangan Khusus: Digunakan untuk menulis gagasan mencerahkan dan bersedekah di LazisMu.
Hati Khusus: Dibersihkan dari rasa benci kepada sesama anggota persyarikatan maupun umat secara luas.
Sebagai penutup,
Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memperkuat ideologi kita. Dengan puasa yang berkualitas (khusus), kita akan menjadi penggerak persyarikatan yang tangguh, yang mampu membawa Islam sebagai Rahmatan lil 'Alamin dan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Nasrun Minallahi wa Fathun Qariib.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.