Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat... (dst).
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT. Selawat serta salam semoga tercurah kepada teladan abadi kita, Nabi Muhammad SAW.
Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,
Saat kita terbangun di waktu sahur dengan mata yang masih mengantuk, biasanya di atas meja makan sudah tersaji nasi hangat, lauk-pauk, dan segelas air. Kita sering lupa bertanya: Jam berapa makanan ini mulai dimasak? Siapa yang memotong sayurnya? Siapa yang mencuci piringnya di saat semua orang masih terlelap?
Dialah sang "Pahlawan di Balik Layar", yaitu Ibu kita.
Di bulan Ramadhan ini, ibu memiliki peran ganda. Beliau juga berpuasa, beliau juga haus, tapi beliau rela memotong waktu istirahatnya lebih awal demi memastikan anak-anak dan suaminya bisa melaksanakan sunnah sahur dengan nyaman.
Keutamaan Luar Biasa Sang Ibu
Ketulusan seorang ibu menyiapkan sahur bukanlah hal sepele di mata Allah. Ada dua alasan mengapa pengabdian ini begitu istimewa:
1. Pahala Memberi Makan Orang Berpuasa
Meskipun yang diberi makan adalah keluarga sendiri, seorang ibu tetap mendapatkan keutamaan memberi makan orang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun." (HR. Tirmidzi)
Bayangkan jika di rumah ada 5 orang yang berpuasa, maka sang ibu mendapatkan pahala 5 orang puasa sekaligus hanya dari menyiapkan hidangannya.
2. Amal Jariyah di Balik Tenaga Kita
Setiap butir nasi yang disiapkan ibu menjadi energi bagi kita untuk shalat subuh, untuk sekolah, dan untuk menahan lapar seharian. Selama kita melakukan kebaikan dengan energi dari makanan tersebut, maka pahalanya pun mengalir deras kepada sang ibu.
Jamaah yang berbahagia,
Allah SWT sangat menekankan bakti kepada orang tua, terutama ibu. Dalam Al-Qur'an Surah Luqman ayat 14, Allah berfirman:
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah..."
Jika mengandungnya saja sudah berat, bayangkan lelahnya ibu yang harus mengatur urusan rumah tangga di tengah rasa haus dan lapar saat berpuasa.
Penutup & Muhasabah
Melalui kultum singkat ini, saya ingin mengajak kita semua, khususnya para siswa:
Jangan Mengeluh: Jika masakan ibu terasa kurang asin atau telat tersaji, jangan menggerutu. Ingatlah perjuangannya melawan kantuk.
Bantulah Beliau: Jangan biarkan ibu mencuci piring sendirian setelah sahur. Berikan waktu bagi beliau untuk juga bisa melakukan shalat fajar atau tadarus.
Ucapkan Terima Kasih: Sebelum berangkat sekolah atau bekerja, cium tangannya dan ucapkan terima kasih atas hidangan sahurnya.
Semoga Allah SWT menjaga kesehatan ibu kita, mengampuni dosa-dosanya, dan membalas setiap tetes keringatnya di dapur dengan istana di surga. Amin ya Rabbal 'Alamin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.