Puasa Media Sosial: Menjaga Jempol dari Ghibah Digital

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat... Segala puji bagi Allah yang memberikan kita kesempatan untuk menjalankan ibadah puasa. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Rasulullah SAW, teladan terbaik dalam menjaga lisan.

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,

Dahulu, para ulama sering mengingatkan kita untuk "menjaga lidah". Karena lidah lebih tajam dari pedang. Namun di zaman sekarang, ada yang tak kalah tajam dari lidah, yaitu jempol kita.

Saat puasa, kita mungkin berhasil menahan mulut untuk tidak makan dan tidak memaki orang secara langsung. Tapi, apakah jempol kita juga sudah berpuasa? Ataukah jempol kita masih asyik mengetik komentar pedas, menyebarkan hoax, atau asyik ber-Ghibah Digital di grup WhatsApp dan kolom komentar?

Bahaya Ghibah Digital

Ghibah atau menggunjing bukan lagi sekadar kumpul-kumpul di depan rumah. Sekarang, ghibah berpindah ke layar smartphone. Allah SWT memberikan peringatan keras dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

"...dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik..."

Secara fisik kita berpuasa, perut kita kosong. Tapi jangan sampai di mata Allah, kita terlihat sedang "memakan daging saudara sendiri" karena asyik membicarakan aib orang lain di media sosial.

Puasa Media Sosial Bukan Berarti Berhenti, Tapi Berhati-hati

Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadits:

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari)

Jika kita memposting sesuatu yang belum tentu benar, atau ikut-ikutan menghujat orang di media sosial, maka puasa kita hanya akan menyisakan lapar dan dahaga saja. Sia-sia.

Tips Menjaga Jempol di Bulan Ramadhan:

  1. Saring Sebelum Sharing: Jangan jadi agen penyebar berita yang belum tentu benar.

  2. Tahan Jari untuk Berkomentar: Jika melihat postingan yang memancing emosi, tarik napas dan ucapkan "Inni Shoo-im" (Sesungguhnya aku sedang puasa).

  3. Ganti Durasi Scrolling dengan Tadarus: Jika biasanya kita kuat scrolling TikTok/Instagram selama 1 jam, mari kita tantang diri untuk membaca Al-Qur'an dengan durasi yang sama.

Sebagai penutup,

Mari kita jadikan media sosial sebagai ladang pahala, bukan ladang dosa. Gunakan jempolmu untuk mengetik kata-kata semangat, membagikan ilmu, atau sekadar memberi like pada konten dakwah. Ingat, setiap ketikan jempol kita akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.