Khutbah Jum'at : Nasehat Untuk Pemuda


Khutbah Pertama


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ، وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا، وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً. وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا أَمَّا بَعْدُ.

 


Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,



Dari atas mimbar ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian: marilah kita senantiasa memupuk dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Takwa dalam arti yang sesungguhnya—menjalankan apa yang Dia perintahkan dan meninggalkan apa yang Dia larang, mumpung napas masih berhembus, mumpung jasad ini masih diberi waktu untuk berpijak di atas bumi-Nya.


Jamaah yang dimuliakan Allah,

Jika kita berbicara tentang waktu, ada satu fase dalam siklus kehidupan manusia yang menjadi puncak dari segala kekuatan, namun paradoksnya, paling sering disia-siakan. Fase itu adalah masa muda.

Banyak orang mengira bahwa masa muda adalah sebuah ruang tunggu yang panjang, di mana kita bebas melakukan kesalahan, menghamburkan waktu, dan menunda kebaikan dengan satu alasan klasik: "Ah, saya masih muda. Waktu saya masih panjang. Nanti saja ibadahnya kalau sudah tua dan mapan."

Pola pikir semacam ini adalah salah satu tipu daya iblis yang paling halus namun mematikan. Masa muda bukanlah draf kasar yang bisa direvisi di hari tua. Ia adalah tinta permanen yang sedang melukis jejak sejarah kita sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan kita tentang berharganya setiap detik yang berlalu lewat Surah Al-Asr. Dan secara spesifik, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan peringatan tajam tentang masa muda melalui hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

"Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim).

Kenapa masa muda disebut pertama? Karena di masa inilah manusia memiliki modal paling besar. Tubuh masih prima, daya ingat masih tajam, keberanian masih menyala, dan energi seakan tidak ada habisnya. Di masa muda, kita punya kemampuan berlari lebih kencang, berpikir lebih liar, dan bekerja lebih keras.

Namun, tanyakan pada diri kita—terutama kita yang masih berada di usia muda, atau kita yang memiliki anak-anak muda di rumah: Untuk apa energi besar itu dihabiskan?

Apakah dihabiskan untuk scrolling layar ponsel berjam-jam tanpa tujuan? Apakah dibakar untuk nongkrong hingga larut malam membicarakan hal-hal yang tidak menambah berat timbangan amal? Atau dihabiskan untuk mengejar tren dunia yang tak akan pernah ada ujungnya?

Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Masa muda adalah tamu yang datang hanya sekali dan tidak akan pernah kembali. Jika masa tua adalah musim panen, maka masa muda adalah musim tanam. Mustahil kita memanen kebaikan, ketenangan batin, dan keistiqamahan di masa tua, jika di masa muda kita hanya menanam kemalasan, kemaksiatan, dan kelalaian.

Mari kita tengok lembaran sejarah Islam. Agama ini dibesarkan oleh pundak anak-anak muda yang visinya jauh melampaui usianya.

• Usamah bin Zaid, di usia belasan tahun sudah dipercaya Rasulullah memimpin pasukan besar melawan Romawi.

• Ali bin Abi Thalib, di usia sangat belia berani menggantikan posisi tidur Rasulullah di malam hijrah yang mempertaruhkan nyawa.

• Muhammad Al-Fatih, di usia 21 tahun berhasil menaklukkan Konstantinopel, mewujudkan nubuat yang tertunda ratusan tahun.

Mereka tidak menunggu tua untuk berkarya. Mereka tidak menunggu rambut beruban untuk dekat dengan masjid dan Al-Quran. Mereka sadar bahwa jatah usia adalah rahasia langit. Tidak ada jaminan seseorang yang hari ini muda dan sehat, akan hidup sampai besok pagi, apalagi sampai tua.

Oleh karena itu, bagi kita yang masih dikaruniai usia muda, mari ubah cara pandang kita. Jadikan masa muda ini sebagai modal investasi akhirat. Bangunlah di sepertiga malam ketika teman-temanmu terlelap. Baca dan hafalkan Al-Quran selagi memori masih segar. Jadilah pemuda yang produktif, yang karya dan karyanya memberi manfaat bagi umat. Ingatlah bahwa dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di Padang Mahsyar kelak, salah satunya adalah pemuda yang tumbuh dan berkembang dalam ketaatan beribadah kepada Allah.

Dan bagi para orang tua, bimbinglah anak-anak muda kita. Jangan biarkan mereka terhanyut oleh arus zaman yang merusak moral dan akidah. Jadilah sahabat diskusi bagi mereka, arahkan energi mereka yang meluap-luap itu kepada jalan yang Allah ridhai.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menjaga kita dan generasi muda kita, melembutkan hati kita untuk menerima hidayah, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai mensyukuri waktu.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


 

Khutbah Kedua


الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًاسَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ، وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

سُبْحَٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ, وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِينَ, وَٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ.