Sejarah Peradaban Islam

BAB I
PERADABAN ISLAM
A. PENGERTIAN PERADABAN ISLAM
Istilah “peradaban Islam” merupakan terjemahan dari kata Arab, yaitu al-Hadharah al-Islamiyyah. Istilah Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “kebudayaan Islam”. Padahal, istilah kebudayaan dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah. Di Indonesia, sebagaimana juga di Arab dan Barat, masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata : “kebudayaan” (Arab/al-tsaqafah dan culture/Inggris) dengan “peradaban” (civilization/Inggris dan al-hadharah/Arab) sebagai istilah baku kebudayaan. Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang, kedua istilah itu dibedakan.
Menurut Koentjoroningrat, kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud,yakni:
1. Wujud ideal, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya;
2. Wujud kelakuan, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat; dan
3. Wujud benda, yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya.
Islam memang berbeda dari agama-agama lain, sebagaimana pernah diungkapkan oleh H.A.R. Gibb dalam bukunya Whither Islam kemudian dikutip M.Natsir, bahwa, “Islam is andeed much more than a system of theology, it is a complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama, ia adalah suatu peradaban yang sempurna).
Agama Islam tidak lahir dari peradaban atau kebudayaan tetapi membentuk dan menciptakan peradaban yang berbasis wahyu. Transformasi peradaban duniadari Peradaban bangsa Sumeria di Mesopotamia, Mesir kuno, Yunani kuno, Romawi- Byzantium, Persia, China, India dan Arab Jahiliyah serta Islam dan Barat.
Maju mundurnya peradaban islam tergantung dari sejauh mana dinamika umat islam itu sendiri. Dalam sejarah islam tercatat, bahwa salah satu dinamika umat islam itu dicirikan oleh kehadiran kerajaan-kerajaan islam diantaranya Umayah dan Abbasiyah, Umayah dan Abbasiyah memiliki peradaban yang tinggi, diantaranya memunculkan ilmuwan-ilmuwan dan para pemikir muslim.  
B. PERIODEISASI PERADABAN ISLAM
CLASSICAL ISLAM (650-1250 M)
1) Masa Rasul;
2) Masa Khulafa Al Rasyidin (11-40 H / 632-661 M);
3) Dinasti Umayyah (41-132 H / 661-750 M);
4) Dinasti Abbasiyah ( 132-656 H / 750-1258 M);
5) Dinasti Umayyah II;
6) Dinasti Fatimiyah;
7) Dinasti Ayyubiyah ; dan
8) Masa disintegrasi.
MEDIEVAL ISLAM (1250-1800 M)
1) Dinasti Mamluk ( 648–992 H /1250-1517 M);
2) Dinasti Turki Usmani;
3) Dinasti Safawi ;
4) Dinasti Mughal.

MODERN ISLAM (1800 M – SKG)
1) Renaisans di Eropa;
2) Penjajahan Barat terhadap Islam ;
3) Nasionalisme Dunia Islam;
4) Lahirnya Negara-Negara Islam.

BAB II
URUTAN PERADABAN ISLAM
1. PERADABAN ISLAM PADA MASA RASUL
Di bidang Politik dan Sistem Pemerintahan:
1) Negara Islam yang bersatu dan menjamin hak setiap;
2) Warganya, serta memiliki hukum yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis;
3) Mempersatukan Muhajirin dan Anshar;
4) Mengangkat Nabi Muhammad sebagai kepala negara;
5) Mengembangkan institusi sosial politik dan konsolidasi umat yang berdampak banyak peperangan.
Di bidang Sosial Kemasyarakatan:
1) Hidup bersatu dalam Ukhuwah Islamiyah yang memiliki Akhlaq al-Karimah;
2) Mendirikan Masjid sebagai pusat aktivitas;
3) Melakukan dakwah ke daerah sekitar;
4) Meletakkan dasar persamaan, hubungan dan persatuan antar sesama umat Islam dan non-Muslim (Konstitusi Madinah).

2. PERADABAN ISLAM PADA MASA KHULAFA’UR AL-RASYIDIN
Sejak awal, Rasulullah SAW tidak pernah mengajar sistem feodal atau monarki. Maka, pemilihan khalifah (pada masa khulafaur rasyidin) dilakukan dengan tiga model pemilihan: aklamasi; penunjukan; atau (ketiga) melalui tim formatur (dewan syura).
1. Khalifah Abu Bakar Shiddiq (632-634 M)
Meredam kondisi sosial politik paska Rasul wafat, seperti : Nabi palsu, menolak membayar zakat. 

2. Khalifah Umar bin Khatab (634-644 M)
Pengembangan wilayah: Jazirah Arabia, Persia, Syria, Palestina, Mesir dll. Selain itu Kemajuan peradaban pada masa Umar dalam bidang Administrasi Pemerintahan, yakni membentuk dewan-dewan, seperti:
a. Diwan al-Jundiyyun (angkatan bersenjata);
b. Bait al-maal (keuangan negara);
c. Teritorial, membagi daerah menjadi delapan wilayah (propinsi);
d. Hukum, membentuk lembaga hukum (pengadilan), memisahkan kekuasaan eksekutif dan legislatif, lembaga kepolisian, kantor pos, dll
e. Bidang intelektual, meminta Ali membentuk dasar gramatika bahasa Arab, dll
Kodifikasi Al-Qur’an.
3. Khalifah Usman bin Affan (644-655M)
Peradaban terbentuk Mushaf Al-Qur’an, membangun infrastruktur kota, dll. Sistem pemerintahan nepotisme.
4. Khalifah Ali bin Abi Thalib (655-661M)
Pada proses pemilihan dan pengangkatan Khalifah Ali sebanarnya Tidak seluruh amir mendukung Ali. Beberapa peradaban pada pemerintahan Ali, yakni: Penggantian Gubernur era Usman, adanya konflik politik umat Islamyang dipicu oleh pengikut Usman, terjadinya Perang Shiffinantara Ali vs Muawiyah, Peristiwa Arbitrase dan dampaknya.
3. DAULAH UMAYYAH (661-750 M)
Suksesi kepemimpinan Muawiyah Sistem pemerintahan yang terintegrasi dengan hukum Islam Perkembangan dan kemajuan yang dicapai:
1. Perluasan wilayah kekuasaan dari Jazirah Arabia ke Barat: Afrika Utara sampai ke Andalus (Spanyol). Wilayah Timur: Bukhara, Samarkand, ke Punjab India. Wilayah Utara: Persia, Irak, Asia Kecil sampai Asia Tengah (Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, 705-715 M).
2. Pembangunan infrastruktur: panti untuk penyandang cacat, pabrik dll.
3. Intelektual: Khalid bin Yazid (filsafat). Masa Umar bin Abdul Aziz, Umayyah mencapai puncak kejayaan, berkembang ilmu agama, kodifikasi hadis, dll.
4. Bidang sosial politik : masa Abdul Malik bin Marwan (kewajiban
menggunakan bahasa Arab, sebagai bahasa resmi), mencetak mata uang
resmi negara.
4. DAULAH ABBASIYAH 750-1258 M/132-656 H
Kemajuan yang dicapai selama Daulah Abbasiyah berupa:
Gerakan keilmuan, dirintis oleh khalifah Ja’far al-Mansur, setelah mendirikan ibu kota Bagdad (144 H/762 M), mengundang para ilmuan/ulama untuk mengembangkan ilmu agama dan penterjemahan ilmu yang berasal dari luar ajaran Islam.
Puncak kejayaan: Harun al-Rasyid (786-809 M) dan Al-Makmun (813-833 M): bidang ekonomi, pendidikan, politik, sosial, ilmu pengetahuan, dll
Perkembangan Peradaban Islam :
1. Ilmu keislaman (Ilmu Tafsir: al-Thabari 839-923 M, Ilmu Hadis: Bukhari, Muslim dll, Ilmu Fiqih: Ahmad ibn Hanbal, Abu Hanifah, dan Kalam (Abu Hasan Al-Asy ari).
2. Ilmu pengetahuan (Kedokteran: Ibnu Sina, Al-Razi), Matematika (Al-Khawarizmi), Fisika (Ibnu Khaitam), Kimia (Jabir Ibnu Hayyan), Filsafat (al-Kindi, al-Razi) dll.
3. Infrastruktur: Jalan raya, gedung-gedung pemerintahan, istana, masjid, panti, pabrik, dll.
5. ISLAM DI ANDALUS 711 M/92 H-1492M
Spanyol berada di wilayah kekuasaan Islam tahun 711 M/92H pada zaman Khalifah Al-Walid ibn Abdul Malik (D. Umayyah), Musa ibn Nushair (Gubernur Qairuwan/Mesir) kepada Panglima Thariq ibn Ziyad.
Kemajuan yang dicapai:
Mendirikan Masjid dan universitas Cordova dan sekolah-sekolah (Abdurrahman ad-Dakhil, Abdurrahman an-Nashir). Menegakkan hukum Islam (Hisyam I), Pembaharuan bidang militer (Hakam II), Mengundang ilmuwan dan memberi kebebasan bagi non Muslim untuk beribadah.
Mendirikan rumah ibadah dan memiliki hukum sesuai agamanya Abdurrahman al-Ausat.
Mengkolektsi buku-buku ilmu pengetahuan, mendirikan perpustakaan, pembangunan infrastruktur, pengembangan ekonomi rakyat (Hakam II).

6. KONTRIBUSI PERADABAN ISLAM TERHADAP PERADABAN DUNIA
Menjadi fondasi bagi peradaban Barat, Transformasi peradaban Islam ke Eropa. (Melalui perguruan Tinggi di Andalus yang membuka kesempatan bagi rakyat dari berbagai negara di Eropa untuk belajar di Andalus, Memmperkenalkan sistem tatanan sosial baru (egalitarianisme).
7. MASA DISINTEGRASI (+1000-1250 M)
Perpecahan dalam bidang politik yang memunculkan dinasti-dinasti Kecil Timur dan Barat. Bani Idris (788-974 M) dan Bani Aghlab (800-969 M) di Marokko, Dinasti Tulun (868-935 M), Bani Ikhsyid (935-969 M) dan Bani Fathimiyah (969-1171 M), Mamluk 1249-1517 M di Mesir. Dinasti Tahiri (820-872 M), Dinasti Saffari(872-908 M) di Khurasan, dll. Kemajuan peradaban pada masa ini cukup signifikan walaupun tidak sebanding dengan zaman klasik. Fatimiyah mendirikan kota Kairo dan Universitas Al Azhar (972 M) sebagai pusat pendidikan Islam di Mesir dan Dar al-Hikmah (1171 M). Perang Salib, Invasi Mongol dan Keruntuhan Islam. Faktor penyebabnya: Bani Saljuk mengusai wilayah Rumawi termasuk Yerussalem Umat Kristen dibatasi untuk melaksanakan ziarah ke Yerussalem, Provokasi Paus Urbanus II untuk melakukan perang suci (Perang Salib) , Perang Salib terjadi selama dua abad (1095-1291 M). Dunia Islam pasca Perang Salib mengalami kemunduran
secara geografis tidak ada wilayah Islam berhasil diambil alih oleh Kristen, namun secara sosial, ekonomi, politik dan peradaban banyak mengalami kerugian. Perang Salib, Invasi Mongol dan Keruntuhan Islam Dampak Positif bagi umat Kristen di Eropa. Transfer peradaban Islam ke Eropa Menjadi inspirasi munculnya Renaisance di Barat Serangan Bangsa Mongol dibawah Hulagu Khan (1258). Bangsa Mongol berasal dari Turkistan Timur Asia Tengah, menyerbu Bagdad yang sudah lemah. Akibat kekalahan dari Mongol, Kerajaan Islam hancur.
8. KEHANCURAN ISLAM ABAD KLASIK
Invasi (serangan) Bangsa Mongol ke Bagdad dipimpin Hulagu Khan (1258 M), menghancurkan peradaban Perang salib yang terjadi di wilayah kekuasaan Islam menghancurkan infrastruktur wilayah Islam, menghancurkan struktur perekonomian Konflik internal para pemimpin umat Islam dalam menentukan putra mahkota Disintegrasi politik, dll.

9. DINASTI MAMALIK DI MESIR
Didirikan oleh Aybak (1250-1257 M), yang berasal dari para tawanan perang masa dinasti Ayyubiyah. Ketika penyerbuan Mongol ke Mesir, dapat dipertahankan oleh Mamalik, berdampak peradaban Islam klasik terpelihara dari kehancuran, al: Al-Azhar. Puncak kejayaan pada zaman Baybars (1260-1277 M), Sistem pemerintahan Oligarki Militer
Kemajuan Peradaban dalam bidang:
a) Bidang ekonomi, membuka hubungan ekonomi dengan Prancis dan Itali. Jatuhnya Bagdad, berdampak pindahnya jalur dagang internasional Barat dan Timur ke Mesir;
b) Perkembangan ilmu pengetahuan;
c) Perwakafan, mengelola zakat, infak wakaf dll serta menyalurkan

10. DINASTI USMANI (1299-1922 M)
Dinasti Usmani, dinasti Islam terbesar abad pertengahan, berkuasa selama 6 abad. Masa kejayaan Sultan Sulaiman al-Qanuni, 1520-1566 M, disusun kitab Undang-Undang (Qanun) “Multaqa al-Abhur”, menjadi dasar hukum hingga abad ke 19. Wilayah kekuasaan Turki mencakup Asia Kecil, Timur Tengah, sebagin besar Afrika Utara, sebagin wilayah Eropa Timur.
Kemajuan yang dicapai :
a) Militer dan Pemerintahan Angkatan bersenjata (Jenissari atau Inkisyariah) Sultan dibantu oleh Shadr al-A’dzam (perdana menteri) membawahi Pasya [memimpin daerah tingkat I/Gubernur), dibantu al-Zanaaiq atau al-Alawiah/Bupati).
Pembaharuan dan sekularisme [abad 18 M, dengan berdirinya gerakan Tanzimat, Usmani muda, Turki muda dan Partai Persatuan dan Kemajuan].
b) Bidang Keagamaan: ijtihad tidak berkembang, karya-karya Ulama lebih pada syarah
(penjelasan) dan hasyiyah (semacam catatan terhadap karya-karya klasik). Mayoritas
menganut aliran Asy’ariyah, tarekat Bektasyi dan Tarekat Maulawi berkembang.
c) Bidang Pendidikan, memasukkan pengetahuan umum dalam kurikulum
pendidikan, seperti pelajaran bahasa Perancis, Ilmu Bumi, Ilmu Ukur, Sejarah, Ilmu
Politik. Pada tahun 1838 M sultan Mahmud II mendirikan “Dar ul-Ulum-u Hikemiye Ve-Mekteb-i Tibbiye-i Sahane” (sekolah kedokteran dan pembedahan). Bahasa Perancis
sebagai bahasa pengantarnya.
d) Pemberdayaan Perempuan: dalam bidang, pendidikan, lapangan pekerjaan terutama
dalam bidang ekonomi. Pola hubungan suami isteri dengan prinsip keadilan dan
kesetaraan menjadi prioritas sementara poligami tidak populer
Mustafa Kamal dan Sekularisme Turki Republikanisme, penggantian sultan dan sistem pemerintahannya, kedaulatan di tangan rakyat Populisme, pengakuan terhadap martabat rakyat, pemerintahan milik rakyat, dari dan untuk rakyat Nasionalisme. konsep nasionalisme dengan kriteria budaya, bahasa dan kesatuan geografis wilayah Turki Reformisme. Modernisasi dan transformasi Turki yang mengadopsi budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi Barat, menghilangkan kebodohan Sekulerisme. Pemisahan urusan negara dari agama.
11. DINASTI SYAFAWI DI PERSIA
Safawi berasal dari gerakan tarekat beraliran syari’ah, didirikan Safi al-Din (1252-1334 M), kemudian berubah menjadi kekuatan politik, dikenal dengan Dinasti Safawi pada masa Sultan Ismail I (1501-1524 M). Puncak keemasan pada masa Sultan Abbas I berkuasa dari 1588-1628 M, Kemajuan Peradaban dalam bidang :
a) Militer dan Pemerintahan: Membentuk angkatan bersenjata, membangun hubungan diplomatik dengan daerah sekitar, melakukan ekspansi ke wilayah lain
b) Sosial ekonomi: menguasai jalur perdagangan Timur dan Barat
c) Infrastruktur: pembangunan sarana pendidikan, masjid, penginapan, pemandian
umum.
d) Ilmu pengetahuan: Al-Din Syiradzi Muhammad Baqir ibn Muhammad Damaz
(filosuf, ahli sejarah, teolog, peneliti flora), dll
e) Seni: keramik, tekstil, karpet, lukis. Seniman Bizhad, diangkat sebagai kepala
perpustakaan Raja Syah Tahmasp), yang menghasilkan karya Syah Nameh I yang
memuat lebih 250 lukisan, sebagai karya seni terbesar di Iran.

12. DINASTI MUGHAL DI INDIA
Didirikan Zahiruddin Babur (1482-1530), cucu Timur Lenk, keturunan Jengis Khan Puncak kejayaannya pada masa Sultan Akbar (1556-1605 M) Kemajuan Peradaban dalam bidang :
a) Bidang Politik dan pemerintahan Sistem Pemerintahan meliteristik, Sultan penguasa mutlak, pemerintah daerah dipimpin Kepala Komandan (Sipah Salar).Distrik dipimpin Komandan (Fauzar);
b) Bidang ekonomi:Sektor pertanian dan industri;
c) Bidang Seni: Seni Arsitektur, seperti masjid, istana Fatfur, Taj Mahal di Agra, Istana dll. Seni sastra (syair) berkembang pesat.
CORAK BUDAYA ISLAM
Adopsi dan akomodasi Islam terhadap ekspresi budaya lokal, menimbulkan keragaman dalam peradaban Islam, yang terdiri dari ranah :
1. Budaya Arab, di Timur Tengah (kawasan Jazirah Arab, Mesir, Afrika Utara). Bahasa Arab sebagai lingua franca.
2. Budaya Persia, di Iran dan sebagian Asia Tengah. Bahasa Persia sebagai medium.
3. Budaya Turki, di Anatolia, sebagian Asia Tengah, dan Eropa Timur. Bahasa Turki sebagai bahasa sehari-hari.
4. Budaya Anak Benua India (India, Pakistan dan Bangladesh). Menggunakan
bahasa Urdu, Hindi dan Bengali sebagai bahasa ibu.
5. Budaya Melayu, di kawasan “Nusantara” (Indonesia, Malaysia, Brunai
Darussalam, Singapura dan Patani), menggunakan bahasa Melayu.
6. Budaya Afrika Hitam, di Mesir selatan, Afrika Utara, Afrika Tengah,
menggunakan berbagai bahasa lokal yang mendapat pengaruh kosakata Arab.
DAFTAR PUSTAKA


A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan islam, Jilid I, terj. Mukhtar Yahya (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1983).
B. Ahmad Amin, Isllam dari Masa ke Masa cet. I (Bnadung: CV. Rusyida,1987).
C. Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, jilid III. Dirjen Binbaga Islam Departemen Agama RI, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, jilid I (Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IAIN Alauddin, 1981/1982)
D. Hasyimi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979)
E. G.E. Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, Terjl Ilyas Hasan (Bandung: Mizan, 1980).
F. Nourouzzaman Shiddiqi, Tamaddun Muslim (Jakarta: Bulan Bintang, 1986)
G. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan, dan Shiddiqi, Tamaddun Muslim; juga Ibn al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, jilid III,
H. http://paksalam.wordpress.com/
I. http://pagenjahan.blogspot.com/

ORDER VIA CHAT

Produk : Sejarah Peradaban Islam

Harga :

https://www.abufariz.com/2010/07/sejarah-peradaban-islam.html

ORDER VIA MARKETPLACE

Diskusi