5.17.2018

Pengalaman Menggunakan BPJS

Selasa, 8 mei yang lalu malam hari saat kami sedang tidur si Dede Fariz (18  bulan) tiba-tiba bangun dari  tidurnya sekitar jam 3 malam langsung menangis, saya dan abi nya langsung bingung, kenapa si Dede nangis, owh...saya pikir mungkin  si Dede nya sakit perut masuk angin, karena pada saat itu perut nya kembung, lantas saya beri minyak kayu putih saja, si Dede gelisah sampai jam 5 subuh baru mau tidur lagi, setelah itu bangun lagi sambil nangis dan  nunjuk-nunjuk mau ke WC, saya bawa lah ke WC pikir saya mau pipis, ternyata iya mau pipis, tapi kesakitan saya bingung tiap mau pipis pasti nangis, saya langsung telpon bidan yang biasa nanganin Fariz, janjian jam 9, di beri obat kembung, dan obat antibiotik untuk sakit saat pipis nya Fariz, kata bidan mungkin itu bakteri terus infeksi, 2 hari minum obat itu terus tidak ada perubahan, bingung saya, sore  Kamis 10 Mei saya bawa ke dokter, kata nya ini infeksi, diberilah antibiotik lagi, dokter pun tanya ke saya, pada saat Fariz pipis apakah penis nya menggelembung, saya jawab tidak, karena pada saat itu saya tidak memperhatikan Fariz pipis, pulang dari dokter, dirumah Fariz mau pipis eh ternyata penis nya menggelembung dan kesakitan, terus nangis-nangis, terus sudah diminum obat dari dokter 1 hari tidak ada perubahan, Jumat 11 mei malam kami sudah mau tidur si Dede Fariz sudah tidur duluan tiba-tiba bangun dan menangis histeris kesakitan karena mau pipis, kami langsung ambil tindakan untuk membawa kerumah sakit, jam 11 malam kami bawa sampai di IGD rumah sakit Fariz diperiksa, dan ditanya keluhannya dan di saran kan untuk rawat inap padahal bisa saja tidak rawat inap tapi besok kembali lagi untuk periksa dengan dokter, pikir saya lebih baik rawat inap dari pada harus bolak balik lagi, fariz pun dipasang infus, besok nya Dokter pun datang ke ruang perawatan Fariz dan saya mencoba menjelaskan keluhan yang dialami fariz  yang area penisnya sakit dan memang yang saya lihat kondisinya agak bengkak. Lalu dokter menerangkan bahwa yang dialami fariz adalah fimosis. Jadi fimosis itu apa? Fimosis ini merupakan kondisi dimana kulup penis melekat pada kepala penis dan menutup lubang penis. Akibatnya jadi susah pipis. Penyebabnya umumnya karena bawaan lahir, Penyebab lainnya bisa karena peradangan yg disebabkan infeksi, trauma benturan. pada saat itu dokter menyarankan untuk di sirkumsisi atau disunat itulah solusinya, kemudian Fariz disuruh pulang dulu dan mengatur jadwal untuk di sirkumsisi atau disunat, dokter pun memberi resep untuk obat dirumah Abi nya pun langsung menebus obat, perawat pun melepas selang infus.
Sabtu 12 Mei kami pulang kerumah
Saya berpikir kenapa tidak di sunat di tempat lain saja karena kasihan si Fariz kesakitan terus kalo pipis, saya mencoba menelpon dokter umum siapa tau beliau bisa menangani Fariz untuk di sunat, tapi tidak ada jawaban, kami pun mengirimkan pesan singkat dan menjelaskan kemauan kami, beliau pun menjawab pesan singkat kami, kata beliau kalo mau disirkumsisi atau disunat harus menyembuhkan infeksi nya tadi dulu, ya sudah lah, kami pun  kami memutuskan  untuk di sirkumsisi di rumah sakit saja mungkin lebih aman dan lebih lengkap peralatannya seandainya  terjadi apa-apa, hari senin 14 Mei kami kerumah sakit lagi jam 8 sudah tiba disana ternyata sudah banyak yang antri di loket pelayanan, kami mengambil no antrian, kami kena no antrian 88,sampai jam 11  akhir nya dipanggil dan dikonsultasikan, kami ingin ke poli bedah pada saat itu kami tidak membawa rujukan dari puskesmas, karena tidak tahu jalur nya memang seperti itu, kami pun diminta untuk membawa rujukan dari puskesmas  dan diminta kembali lagi ke rumah sakit, pikir saya kenapa harus bolak balik lagi, kasian si Fariz sudah nunggu lama dan harus balik lagi, kami pun memutuskan untuk harus umum saja, kemudian kami pun jalur umum dan dipersilahkan ke poli bedah, sampai dipoli bedah dan harus antri lagi nunggu giliran, Fariz pun dipanggil untuk keruangan dokter, disana banyak dokter-dokter muda, saya pun menyampaikan kan keluhan saya, salah satu dokter muda mengatakan kedokter yang memeriksa Fariz bahwa kami jalur umum, si dokter senior yg memeriksa Fariz pun bertanya ga ada punya kartu BPJS? Saya  pun menjawab punya, knp ga pakai BPJS saja kata dokter nya, kata saya, dipelayanan tadi kami dimintai surat rujukan dari poskesmas, tapi kami tidak bawa rujukan, jadi kami pilih umum saja supaya cepat, kata dokternya pakai BPJS aja, ibu pulang dulu minta surat rujukan habis tu balik lagi atau besok baru kesini lagi, kata saya aduh dokter, kasian ini anak saya kesakitan terus kalo mau pipis, kenapa ga  umum aja supaya bisa disunat hari ini,  terus kata dokter muda, ibu mau anak nya disunat hari ini, ya sudah ibu tunggu aja hari ini dan ibu pakai BPJS aja ya ga usah pakai rujukan. Alhamdulillah.....kami pun mengurus ke BPJS, dan di suruh ke pelayanan rawat inap untuk meminta kamar di penyakit bedah, di pelayanan BPJS  rawat inap ternyata kamar kelas 3 penuh terpaksa kami nunggu di pelayanan, 3 jam menunggu informasi kamar, kami pun disarankan untuk dititip di kamar kelas 2 karena kelas 3 masih penuh, dan kasian juga si Fariz seharian ga bisa istirahat, dan kata nya sore bisa di sirkumsisi atau disunat pada akhirnya dokter pun bilang tidak bisa sore ini karena beliau ada urusan lain, saya pun sempat kesel kenapa ditunda lagi orang cuma disunat kata saya, saya kira disunat biasa layak nya anak-anak, dan akhir nya kami menginap lagi dan dijadwalkan hari Selasa 15 Mei jam 9 disirkumsisi, abi nya Fariz harus menandatangani pernyataan bahwa Fariz harus dibius total, dan si Fariz harus berpuasa dari mulai jam 3 subuh tidak boleh makan, minum, dan Asi saya terkejut, didalam hati saya harus seperti itu kah, kan cuma mau disunat. Faris di periksa darah dan urine, Semalaman saya tidak tidur memikirkan tindakan sirkumsisi yang akan dilalui fariz. Memang saya akui sih kekhawatiran saya agak berlebih karena tindakan bius total untuk sirkumsisi esok hari. Malamnya Fariz tidur lumayan nyenyak, sesekali mencari nenen. Suster menganjurkan agar saat jam 3 pagi saya stop memberikan ASI dan makanan apapun karena fariz harus berpuasa. Pagi harinya Fariz di infus untuk  memasukkan obat,Rewelnya bukan main sesekali minta nenen tapi saya larang, saya coba alihkan dengan bermain, lihat video, jalan-jalan sampai ketiduran, sampai pada pukul 9 perawat datang dan membawa kami ke ruang operasi. Diruang operasi Fariz bangun dari tidurnya fariz meronta-ronta karena melihat kondisi mama nya yang pakai baju aneh menurut nya karena saya harus memakai baju untuk ke ruang operasi untuk mengantarkan Fariz . Hati saya langsung merasa bersalah, seperti menyalahkan diri sendiri dan langsung melabeli diri ini sebagai ibu yang tidak becus mengurus anak. mencoba menguatkan dan memberi sugesti yang positif bahwa semua akan baik-baik saja.
Perawat mengintruksikan saya untuk menggendong Fariz dan masuk ke ruangan operasi. berusaha ikhlas karena apa yang kita punya di dunia ini sesungguhnya hanya “titipan” dari Allah. Saat saya merebahkan Fariz di kamar operasi dia menangis sambil ngamuk-ngamuk dan teriak-teriak saat itu juga dokter memasukan obat bius langsung fariz  tertidur dan saya dipersilahkan keluar untuk menunggu di ruang recovery atau ruang tunggu keluarga.
Proses operasi sirkumsisi alhamdulillah berjalan lancar,saya dipanggil dan saya melihat salah satu perawat sedang menggendong Fariz  yang setengah sadar. Hal pertama begitu melihat Fariz  setelah disirkumsisi saya ngilu, karena penisnya Fariz meronta ronta karena obat bius nya sudah tidak bereaksi lagi cukup lama untuk membuat Fariz sadar kembali aku, Abi nya, nenek dan kakek nya mencoba menyadarkan Fariz yang menangis histeris,
Alhamdulillah selang 1 jam kami bisa berkumpul kembali di ruang perawatan. Abi nya pun bertanya kepada perawat yang jaga apakah Fariz bisa pulang sore, ternyata tidak bisa karena ada suntikan obat yg harus dijalani, ya sudah menginap lagi kami, besok hari nya 16 Mei kami minta mau pulang, ternyata harus nunggu dokter dulu, sampai siang ga datang dokternya, ternyata dokternya rapat, ga bisa ke ruangan, kami sudah bosan, baju-baju kami sudah di titip ke kakek nya, karna kami antusias untuk pulang, dari pagi sampai sore saya gelisah mau pulang, saya ga makan, Abi nya bolak balik nanya ke perawatnya, kata perawatnya kami coba SMS tapi lama ga dibalas, tunggu resep dari dokter buat dirumah, si Fariz sudah mulai rewel mungkin sudah merasa sedikit perih, saya sempat nangis karena ga ada kepastian bisa pulang atau ga, akhirnya sore perawat datang memberi resep dan langsung Abi nya Fariz tebus ke apotik, Alhamdulillah selang infus di lepas, akhirnya bisa pulang sore itu, kami takut kalo kehujanan dijalan soalnya kami cuma pakai kendaraan bermotor aja. Alhamdulillah...sampai dirumah saya cari informasi di google tentang biaya  yang dikeluarkan untuk operasi sirkumsisi, saya terkejut biaya untuk operasi sirkumsisi beserta kamar rawat inap, jasa dokter, pemakaian kamar operasi sebesar Rp 7.500.000. ga kebayang kalo harus bayar segitu banyak nya, Alhamdulillah kemarin pakai jasa BPJS kalo umum mungkin ga ada uang kami, tapi demi anak apapun dilakukan.
Pasca fariz disirkumsisi atau disunat mungkin bayak teman-teman yang mempertanyakan kenapa gak diobservasi dulu kan anak nya masih kecil dan lainnya. Yang saya pikirkan adalah semakin saya menunda tindakan sirkumsisi ini semakin membuat Fariz sulit pipis yang nantinya akan menimbulkan penyakit lain seperti infeksi saluran kemih. Menurut saya semakin cepat ditangani akan semakin baik.
Hari Sabtu 19 Mei Fariz harus kontrol lagi.
Inilah serangkaian cerita dan pengalaman dari kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yuk Berdiskusi !!!